.
.

22 Januari 2006 - Melihat, menyimak, dan turut serta dalam penanganan Peristiwa Luar Biasa Hebat (PLH) pada 16 Desember 2005 disekitar emplasemen, kurang lebih 50 (limapuluh) meter sebelah timur Stasiun Brumbung, Daerah Operasi 4 Semarang, pada rangkaian Kereta Api Rajawali dengan nomor perjalanan 55, maka akan terdapat 3 (tiga) faktor penting sebagai bahan evaluasi dan perbaikan diri bagi kita semua. Faktor-faktor ini adalah pendekatan subyektif kami dalam “membaca” situasi yang terjadi. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Pemeriksaan didipo pemberangkatan;
Pemeriksaan didipo merupakan standard operational procedure (SOP) yang harus dan memang telah dilaksanakan diseluruh dipo. Mengenai kualitas pemeriksaan, maka ini sangat tergantung kepada keahlian (skill), fasilitas, dan waktu yang tersedia. Orang yang baru diangkat menjadi pegawai tentu berbeda dengan orang yang lama. Fasilitas didipo juga mempengaruhi kualitas pemeriksaan. Baik itu peralatannya, juga fasilitas infrastrukturnya. Misalnya saja, kolong los untuk pemeriksaan Kereta Rel Diesel (KRD) tentu harus lebih panjang daripada kolong los yang digunakan untuk pemeriksaan lokomotif. Kalau bisa sih ya bisa. Tapi tetap akan berbeda. Waktu yang tersedia adalah satu hal terakhir namun hal terpenting. Karena jikapun skill ada, fasilitas tersedia, tapi waktunya yang tidak ada, maka sama saja tidak dapat dilakukan. Misalnya untuk KA Harina dari Semarang jurusan Bandung, maka akan tetap terlambat jika KA Rajawali dari Surabaya jurusan Semarang-nya terlambat. Karena loko dan rangkaiannya sama. Tetapi prosedur pemeriksaan habis dinas tetap harus dilakukan. Sehingga loko KA Rajawali harus masuk ke dipo dan melalui prosedur pemeriksaan. Tentang PLH di Brumbung ini, dipo telah melaksanakan SOP yang semestinya yang dibuktikan dengan Check sheet Pemeriksaan Harian (Daily Check).
Pemeriksaan didipo merupakan standard operational procedure (SOP) yang harus dan memang telah dilaksanakan diseluruh dipo. Mengenai kualitas pemeriksaan, maka ini sangat tergantung kepada keahlian (skill), fasilitas, dan waktu yang tersedia. Orang yang baru diangkat menjadi pegawai tentu berbeda dengan orang yang lama. Fasilitas didipo juga mempengaruhi kualitas pemeriksaan. Baik itu peralatannya, juga fasilitas infrastrukturnya. Misalnya saja, kolong los untuk pemeriksaan Kereta Rel Diesel (KRD) tentu harus lebih panjang daripada kolong los yang digunakan untuk pemeriksaan lokomotif. Kalau bisa sih ya bisa. Tapi tetap akan berbeda. Waktu yang tersedia adalah satu hal terakhir namun hal terpenting. Karena jikapun skill ada, fasilitas tersedia, tapi waktunya yang tidak ada, maka sama saja tidak dapat dilakukan. Misalnya untuk KA Harina dari Semarang jurusan Bandung, maka akan tetap terlambat jika KA Rajawali dari Surabaya jurusan Semarang-nya terlambat. Karena loko dan rangkaiannya sama. Tetapi prosedur pemeriksaan habis dinas tetap harus dilakukan. Sehingga loko KA Rajawali harus masuk ke dipo dan melalui prosedur pemeriksaan. Tentang PLH di Brumbung ini, dipo telah melaksanakan SOP yang semestinya yang dibuktikan dengan Check sheet Pemeriksaan Harian (Daily Check).
2. Penanganan PLH;
Penanganan PLH adalah satu diantara banyak hal yang kurang menarik untuk dibicarakan. Orang lebih banyak bicara tentang Pencegahan PLH dan Investigasi PLH, yang keduanya tentu sangat penting. Akan tetapi, penanganan PLH juga tidak kalah penting. Pada kenyataannya kita tidak disiapkan untuk melakukan persiapan penanganan PLH. Oleh karenanya, begitu PLH terjadi, tiba-tiba saja kita harus bekerja luar biasa hebat, sehingga seluruh pekerjaan rutin, sistem utama didipo yang seharusnya tetap berjalan normal, menjadi terganggu. Karena Kdt, kepala ruas (KR), hingga pengawas, seluruhnya berada dilokasi. Hebatnya lagi, dilokasi PLH muncul "mandor-mandor" dilapangan, yang "bertugas" memberi perintah. Bukannya pekerjaan menjadi cepat tuntas, sebaliknya malah menjadi lebih lama dari yang semestinya. PT KA harus mempersiapkan Tim Penanganan PLH secara serius, baik itu orangnya, fasilitasnya, metodenya, sampai dengan biaya yang semestinya tetap dianggarkan didalam RKAD/P.
Penanganan PLH adalah satu diantara banyak hal yang kurang menarik untuk dibicarakan. Orang lebih banyak bicara tentang Pencegahan PLH dan Investigasi PLH, yang keduanya tentu sangat penting. Akan tetapi, penanganan PLH juga tidak kalah penting. Pada kenyataannya kita tidak disiapkan untuk melakukan persiapan penanganan PLH. Oleh karenanya, begitu PLH terjadi, tiba-tiba saja kita harus bekerja luar biasa hebat, sehingga seluruh pekerjaan rutin, sistem utama didipo yang seharusnya tetap berjalan normal, menjadi terganggu. Karena Kdt, kepala ruas (KR), hingga pengawas, seluruhnya berada dilokasi. Hebatnya lagi, dilokasi PLH muncul "mandor-mandor" dilapangan, yang "bertugas" memberi perintah. Bukannya pekerjaan menjadi cepat tuntas, sebaliknya malah menjadi lebih lama dari yang semestinya. PT KA harus mempersiapkan Tim Penanganan PLH secara serius, baik itu orangnya, fasilitasnya, metodenya, sampai dengan biaya yang semestinya tetap dianggarkan didalam RKAD/P.
3. Evaluasi PLH.
Evaluasi PLH seharusnya benar-benar menjadi acuan pembelajaran yang efektif. Baik itu penanganannya, investigasinya, sampai dengan bagaimana pencegahannya. Itu berurut nomor satu, kedua, dan ketiga. Seperti pada kasus putusnya baut gearbox traksi motor lok dinas KA Rajawali pada 16 Desember 2005 itu, tentu bagi orang sarana itu bukan lagi hal yang asing. Melihat dari pemakaian baut gearbox per bulannya, maka hal ini menunjukkan seolah-olah baut gearbox adalah komponen yang habis pakai (consumable). Padahal seharusnya tidak. Karena secara teknis maka baut gearbox TM tidak menerima beban, kecuali beban (gearbox) nya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi? Melihat grafik pemakaian baut gearbox di Dipo Lok & KRD Smc yang sedemikian banyak, dan bahkan jika memang penggantiannya akibat bautnya putus, maka sebenarnya SATU kejadian PLH, itu pasti sangat beruntung. Coba bayangkan jika setiap kejadian putusnya baut gearbox menyebabkan PLH?(Dari Buku REFORMASI SARANA: SEGERA! priyo, 2006)
Evaluasi PLH seharusnya benar-benar menjadi acuan pembelajaran yang efektif. Baik itu penanganannya, investigasinya, sampai dengan bagaimana pencegahannya. Itu berurut nomor satu, kedua, dan ketiga. Seperti pada kasus putusnya baut gearbox traksi motor lok dinas KA Rajawali pada 16 Desember 2005 itu, tentu bagi orang sarana itu bukan lagi hal yang asing. Melihat dari pemakaian baut gearbox per bulannya, maka hal ini menunjukkan seolah-olah baut gearbox adalah komponen yang habis pakai (consumable). Padahal seharusnya tidak. Karena secara teknis maka baut gearbox TM tidak menerima beban, kecuali beban (gearbox) nya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi? Melihat grafik pemakaian baut gearbox di Dipo Lok & KRD Smc yang sedemikian banyak, dan bahkan jika memang penggantiannya akibat bautnya putus, maka sebenarnya SATU kejadian PLH, itu pasti sangat beruntung. Coba bayangkan jika setiap kejadian putusnya baut gearbox menyebabkan PLH?(Dari Buku REFORMASI SARANA: SEGERA! priyo, 2006)

