MATA MASINIS YAYA
.
.
25 September 2008, KA 153 BENGAWAN dilempar batu di rawa bebek - Yaya Sutarya, masinis Depo Jati, ketika berangkat dinas dalam keadaan sehat wal afiat. Sampai ketika KA 153 Bengawan yang dijalaninya pada 25 September 2008 melintas sekitar Setasiun Rawa Bebek-Cakung, kira-kira pukul 06.55 - 07.05 WIB, sebuah batu meluncur menembus kaca kabin loko CC 201 42 dan mendarat dimata sebelah kanannya. Firmansyah, rekan dinas masinisnya segera menghentikan KA 153 Bengawan di Setasiun Cakung, dan segera menurunkan Yaya Sutarya, yang kemudian dibawa oleh pegawai Setasiun Cakung, Chalimi, ke RS Islam, dan kemudian ke RSCM. Dokter RSCM memutuskan untuk segera melakukan operasi, dan dilaksanakan pada sore hari itu juga hingga pukul 21.30 WIB. Dirut PT KA, Roni Wahyudi, Kadaop 1 Jakarta, Judarso Widyono, menyempatkan diri menjenguk Yaya Sutarya sebelum operasi. Kini, Yaya Sutarya masih dalam pengobatan jalan, dan menunggu kemungkinannya untuk mendapatkan kembali penglihatan mata kanannya. Seperti saat dia berangkat dinas dari Depo Jati, sehat wal afiat, lengkap tanpa cacat.

Pelemparan batu oleh orang yang tidak dikenal terhadap kereta api sudah sering kali terjadi. Selama bertahun-tahun dan mengapa terus terjadi? Meskipun diyakini bahwa hanya sebagian kecil dari masyarakat Indonesia yang melakukan perbuatan itu, namun tetap saja harus dicarikan jalan keluarnya, karena jatuhnya korban. Baik itu korban dari penumpang kereta api itu sendiri, dan juga terutama Masinis yang sangat berpotensi besar menjadi korban. Yaya Sutarya juga tidak pernah menyangka bahwa karirnya sebagai masinis berakhir demikian cepat. Ditambah lagi cacat pada mata kanannya yang hanya keajaiban yang mampu membuatnya normal kembali.

Pelemparan batu, entah apapun motifnya, maka itu harus dapat diantisipasi agar tidak lagi jatuh korban. Pembuatan teralis pada kaca depan dan jendela loko yang dipasang di KRL dan juga beberapa Loko DH pun dilakukan kembali jika itu adalah solusi. Meskipun sebenarnya ada jenis kaca yang mampu meredam tumburan keras sehingga batu dan pecahan kaca tidak melukai orang didalamnya. Pertimbangan harga yang relative lebih mahal adalah konsekuensi perusahaan didalam melindungi pegawainya didalam melaksanakan tugasnya. Atau apapun itu maka solusi harus segera dilakukan. Jangan lagi ada korban, terutama masinis yang dipikuli tanggungjawab besar, hidupnya sederhana, sekarang dihantui ketakutan menjadi korban pelemparan batu. Musibah memang kehendak Tuhan. Tapi apa yang sudah kita lakukan untuk mencegah ini terjadi?

Yaya Sutarya, kini sudah bisa menerima kenyataan bahwa mata kanannya cacat permanen. Namun dia masih berharap, diantara rekan kerjanya sesama masinis baik di Depo Jati maupun depo-depo lainnya, dan juga sahabat pecinta kereta api diwilayah DKI Jakarta yang secara terus menerus memberikan bantuan tenaga dan perhatian, memberikan semangat untuk kesembuhannya, namun masih berharap perhatian yang lebih besar dari perusahaan yang dicintainya untuk proses dan segala biaya penyembuhannya, dan bahkan pengembalian penglihatan yang mungkin agak susah untuk dimimpikannya.
.
.
Masinis Yaya Sutarya: Batu menembus kaca loko dan matanya!