KA PROGO DILEMPAR!
.
.
PELEMPARAN (LAGI) KA 155 PROGO10 November 2008, KA 155 progo dilempar batu di Klender - Pelemparan terhadap kereta api masih saja terjadi. Senin dini hari (10/10) kejadian itu menimpa KA 155 Progo. Yang menjadi korban, seperti biasa, masinisnya. Slamet adalah masinis Depo Jati yang menjalani dinas KA 155 yang terkena lemparan batu oleh orang yang tidak bertanggung jawab disekitar Stasiun Klender. Saat itu Masinis Slamet berpasangan dengan Asisten Masinis Suharyono. Batu yang dilemparkan tersebut mengenai tangan kanan Masinis Slamet yang berada di CS1 (Control Stand 1) loko CC 201 54 (Pwt) yang melaju dengan kecepatan normal melewati Stasiun Klender. Akibatnya adalah tangan kanan Masinis Slamet yang terkena lemparan batu tersebut membengkak. Suharyono selaku asisten masinis segera menggantikan posisi Masinis Slamet di CS1. Namun begitu, KA 155 Progo tiba di Stasiun Pasar Senen dengan selamat dan pada waktunya.Pelemparan batu terhadap KA hingga saat ini belum juga berakhir. Belum ada pihak-pihak yang melakukan usaha yang nyata didalam penanganannya. Ini menyangkut kepada beberapa hal; yaitu, PERTAMA, Bagaimana agar masinis/asisten masinis tidak terluka akibat lemparan tersebut, KEDUA, Bagaimana penanganan masinis/asisten yang menjadi korban jika terluka, dan KETIGA, Bagaimana agar pelemparan tidak terjadi lagi. Kejadian ini juga menimpa KA 126 Fajar Utama Semarang pada 5 November 2008 yl. Batu yang menerjang menembus kaca loko CC 201 138 (Smc) mendarat di wajah Masinis Heri Teguh (Depo Cn) hingga mengalami luka cukup serius hingga harus digantikan oleh Masinis Bejo dari Cikampek. Kesaksian dari Asisten Masinis Dadik, pasangan Masinis Heri Teguh, pelemparan itu dilakukan beberapa saat setelah KA 126 melewati Stasiun Cikampek.Mungkin belum hilang dari ingatan kita kejadian yang menimpa Masinis Yaya Sutarya saat menjalani dinasan (juga) KA 155 Progo pada 25 September 2008 yl. Batu yang menerjangnya menembus kaca jendela loko yang berhamburan dan mendarat di mata kanannya hingga membuatnya cacat permanen, dan dipastikan tidak dapat kembali menjalani tugasnya sebagai masinis. Dan hingga hari ini Yaya Sutarya masih bolak balik RSCM dan Jakarta Eye Center (JEC) untuk pengobatannya karena mata kanannya tersebut harus segera diangkat untuk menghindari kebutaan yang menjalar ke mata kirinya. Kasus yang menimpa Yaya Sutarya, Heri Teguh, Slamet, dan masih banyak lagi masinis yang menjadi korban pelemparan batu oleh orang yang tidak bertanggung jawab, akankah terus terjadi? Apa usaha yang sudah dilakukan untuk menanggulanginya? Perlu untuk memberikan rasa aman pada masinis yang bertugas. Apakah itu dengan mengganti kaca loko dengan kaca yang lebih kuat, atau membuat jeruji pengaman pada jendela loko, dan atau melakukan pendekatan kepada masyarakat sekitar jalan rel agar kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Namun apapun itu, maka usaha yang dilakukan jauh lebih baik dari pada berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Selain juga perlu untuk menuntaskan seluruh proses pengobatan dan pemulihan masinis yang menjadi korban pelemparan batu. Bila perlu ada kompensasi yang diberikan sebagai bentuk perhatian perusahaan kepada pegawainya. Dan kini, sudah saatnya bagi perusahaan untuk memberikan asuransi kecelakaan didalam dinas bagi masinis yang memang tidak jauh dari resiko; baik resiko tidak selamat, maupun resiko menjadi orang yang selalu disalahkan didalam kasus kecelakaan kereta api.
.

.