.
.

20 AGUSTUS 2007 : Pagi itu, 17 Agustus 2007, dilaksanakan upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan RI dilapangan muka kantor Daop 4 Semarang. Di upacara tersebut juga diserahkan penghargaan kepada pegawai yang berjasa, teladan, dan atau berprestasi. Termasuk juga personil Dipo lokomotif Smc yang ikut berpartisipasi dalam upacara tersebut meski tidak membawa pulang satupun penghargaan. "Hadiah" itu akhirnya tiba disiang hari pada hari itu juga sekitar pukul 13:00 wib. Rangkaian KA Peti Kemas 1001 anjlog untuk kesekian kalinya dalam kurun waktu yang tidak berselang jauh. NR Dipo Lokomotif Smc tidak basa-basi lagi langsung keluar beserta tim dipo dan meluncur menuju Setasiun Plabuan. Seperti biasa, perjalanan NR tidak begitu lancar. Untungnya yang anjlog bukan kereta penumpang. Mungkin kalo kereta penumpang, tanggung jawab moral yang menggantung dihati orang-orang dipo ini akan lebih besar lagi. Sore menjelang malam, NR sampai di Setasiun Plabuan. Terlihat beberapa gerbong PPCW berserakan menjelang masuk emplasemen Setasiun Plabuan. Jalan relnya kusut. Sebagian gerbong peti kemas bermuatan tersebut ada yang masih miring membentuk sudut sekitar 45 derajat. Sehingga perlu kehati-hatian untuk dapat memulai evakuasi. Personil Dipo Lokomotif Smc dengan semangat upacara peringatan 17 Agustus 1945 tadi pagi mulai melaksanakan tugas mengevakuasi, selain juga kawan-kawan dari Seksi Jalan Jembatan dan Seksi Sinyal Telkom. Juga didatangkan Crane Gottwald dari Dipo Lokomotif Cirebon dengan operatornya Suherman. Dengan beberapa kendala dan permasalahan yang dihadapi, akhirnya evakuasi dapat diselesaikan pada esok harinya sekitar pukul 10 pagi. Seluruh kereta yang melintas jalur utara pun terlambat gak karuan. Orang-orang dipo tentu merasa kecewa. Mereka merasa belum mampu membantu evakuasi agar lebih cepat lagi meski telah berusaha keras. Bahkan makan dan tidur pun terlupakan. Orang-orang dipo ini begitu sederhana sehingga yang difikirkannya hanyalah bagaimana agar evakuasi bisa cepat selesai. Mereka tidak pernah memikirkan betapa bobot muatan pada gerbong PPCW KA 1001 tersebut melebihi dari yang semestinya ataukah tidak. Akan tetapi yang kita fikirkan sekarang adalah bagaimana kita menyiapkan diri untuk evakuasi PLH yang mungkin akan terjadi lagi nanti? Selain upaya pencegahan PLH tentunya...
