FREKUENSI RADIO
.
.
27 Mei 2008 - Pergerakkan dalam rutinitas unit atau orang dan pemantauan sarana di Perka yang berjalan paralel membutuhkan sebuah pola yang baku dan sistematis. Dimana tidak salah satu lebih penting dari satu yang lain. Tetapi keseluruhannya harus bisa berjalan dengan baik. Oleh karenanya didalam pengaturan frekuensi radio yang harus dimonitor radio panggil/handy Talky (HT)/RIK dan lain-lain, oleh unit-unit, atau pejabat yang berkaitan dengan operasional, harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terjadi tumpang-tindih dan atau overlap, yang pada akhirnya semua itu seharusnya memberikan kemudahan bagi personil dan atau unit pelaksana teknis dilapangan dalam melaksanakan tugas didalam Perka, dan tidak sebaliknya. Dalam beberapa kasus dilapangan sudah cukup membuktikan betapa bentuk komunikasi yang dilakukan sekarang ini mempunyai pola yang kurang baik. Malah kadang dengan banyaknya pejabat yang memonitor di



Frekuensi Pusat Kendali (PK) banyak menimbulkan kesukaran-kesukaran baru. Maka ini akan ironis karena malah membuat personil yang melaksanakan Perka dilapangan menjadi kebingungan dengan banyaknya komando dan instruksi. Tentu tidak menjadi sederhana dan mudah jika kemudian yang terjadi adalah perbedaan persepsi yang membingungkan.

Padahal secara sederhana maka suara yang mengudara di frekuensi PK adalah hanya personil PK dan awak KA saja. Bagi semua pihak maka kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan. Karena awak KA-nya bingung, pejabat yang memonitor pun bingung karena harus pindah-pindah frekuensi dari frekuensi PK Barat, trus kemudian ke PK Timur, dan lalu ke frekuensi Oscar Romeo, dan dia pun harus memonitor unit yang dikendalikannya, misalnya unit depo dengan frekuensinya sendiri. Tapi ini akan menjadi lebih baik jika pengaturan penetapan frekuensi yang harus dimonitornya. Misalnya di unit depo, maka KDT hanya perlu memonitor di frekuensi unit depo saja. Karena informasi dari PK Barat dan PK Timur akan diteruskan ke T-depo (=Traindin depo; Pengawas KA di depo) yang berada di frekuensi Oscar Romeo. Ini memungkinkan karena T-depo bergerak shift 24 jam sehari, seperti juga di PK. Adapun ruang gerak PK begitu luas mencangkup frekuensi PK Barat, PK Timur, dan Oscar Romeo. Untuk pejabat pemegang HT juga dapat dengan mudah memonitor dan atau dipanggil karena terus berada di frekuensi yang tetap, yaitu frekuensi Oscar Romeo. Ini juga tentu sangat menekan biaya komunikasi lewat telepon seluler, selain juga untuk cek posisi. Begitupun untuk informasi-informasi penting yang terjadi di Perka dapat dengan segera dan sistematis disampaikan PK kepada seluruh pejabat pemegang HT di frekuensi Oscar Romeo dalam 24 jam sehari. Sehingga frekuensi Oscar Romeo juga dapat benar-benar lebih efektif sebagai radio daerah operasi yang tidak hanya menyiarkan berita-berita MANCARLI (Aman Lancar Terkendali) saja secara "Basi" (karena sudah terjadi) pada jam-jam tertentu saja, tetapi dapat menyiarkan secara langsung dan aktual pada saat itu juga, yang tentunya akan sangat berguna didalam pengambilan keputusannya secara cepat, tapi tidak grasa grusu. Demikian sehingga koordinasi lewat komunikasi radio di Daop 4 Semarang dapat berjalan baik dan tetap berorientasi kepada keberhasilan Perka dan kemudahan personil dilapangan dalam melaksanakan Perka itu sendiri.