BALADA SELANG "INFUS" POWER CONTACTOR
.
.
13 Maret 2009, Loko CC 201 105 tidak bisa melanjutkan perjalanan KA 110 yang dibawanya dan berhenti di Setasiun Jatinegara. Laporannya adalah tenaganya hilang. Depo JNG yang menerima laporan mogoknya loko KA 110 tersebut dengan tentu secara sigap meluncurkan CC 203 25 yang tadinya dipersiapkan untuk KA 4 Argo Anggrek. Tapi apa mau dikata. Tindakan taktis sangat diperlukan untuk menekan keterlambatan KA ketimbang harus melakukan sesuai dengan rencana, ataupun pilih-pilih loko yang sesuai dengan T-18-nya. Dan pada akhirnya KA 110 Parcel dapat melanjutkan perjalanannya dari Setasiun Jatinegara.
Loko CC 201 105 yang "diseret" masuk ke Depo JNG segera dilakukan pemeriksaan. Kdt JNG sendiri yang memeriksanya dengan pikiran sarat kepenasaran. Dan benar saja! Seperti yang sudah dibayangkan, ternyata Selang fleksibel PC (Power Contactor Flexible Hose) bocor! Tepatnya pecah, sehingga udara tekan yang semestinya menggerakkan secara pneumatik pada Power Contactor menjadi bocor keluar, dan akhirnya Power Contactor tidak bekerja, dan selanjutnya sistem tenaga pada loko tidak berfungsi normal. Dan hasilnya: Mogok.
Untuk loko CC 201 105 sendiri, ini adalah mogok kedua setelah kepulangannya dari BYYK dalam menjalani PA beberapa hari yang lalu. Sedangkan peristiwa pecahnya dan atau bocornya selang fleksibel PC adalah sudah kesekian kalinya. Dalam beberapa bulan terakhir ini saja tercatat beberapa loko yang mengalami hal yang sama; sebut saja: CC 201 139 (Smc), CC 201 144 (Smc), CC 203 39 (Sdt), CC 201 126 (Jng), CC 203 15 (Jng), CC 201 73 (Jng), dan lain-lain.
Selang fleksibel PC yang sekarang terpasang di loko-loko memang tidak memiliki kemiripan dengan selang fleksibel yang dulu. Selang fleksibel yang dulu memiliki ketahanan yang agak lama; dan bahkan sampai pada dua kali PA. Namun untuk selang fleksibel yang sekarang secara fisik nampak seperti selang plastik yang rapuh; orang-orang Depo JNG menyebutnya Selang infus; karena memang mirip. Tetapi bukan juga menyalahkan kualitas dari komponen tersebut untuk mencari solusi bagi lok mogok yang disebabkan olehnya. Jika memang usia pakai dari komponen tersebut memang tidak sampai dengan PA atau SPA yang akan datangnya, maka seharusnya kebijakan distribusi komponen tersebut yang harus dirubah. Komponen tersebut yang semestinya diserap oleh BYYK, seharusnya dengan kualitas komponen ybs maka penyerapannya semestinya juga dilakukan didepo. Sehingga depo bisa mengganti komponen tsb pada saat P3, P6, atau P12, sesuai dengan usia pakainya. Dengan demikian angka mogok lok dapat ditekan lebih rendah lagi.
.jpg)

.jpg)
Selang yang bocor itu ...