150 VS 40 DI GUBUG
.
.
10 Mei 2006 - Pada 15 April 2006 yang lalu, petaka itu terjadi. KA 150 Kertajaya disambar oleh KA 40 Sembrani di Stasiun Gubug, Daerah Operasi 4 Semarang, pada dini hari yang kurang beruntung. Berita PLH di Gubug ini diterima oleh Pengawas KA di Dipo Lok Semarang Poncol kurang lebih pada pukul 02.15 WIB (kejadiannya 02:10 WIB), dan langsung disebarkan cepat keseluruh Tim Penanganan PLH di Dipo Lok Semarang Poncol. Tetapi begitu NR baru tiba dilokasi PLH kurang lebih pukul 04:20 WIB. Tampak telah terjadi kantung waktu antara kejadian PLH sampai dengan kedatangan NR. Hal ini banyak disebabkan oleh karena perjalanan NR belum diprioritaskan dijalan rel, sehingga masih "kalah" dengan kereta-kereta yang memang sedang beroperasional. Ini sangat riskan jika terus terjadi. Karena NR dijalan raya adalah ambulance. Yang jika dijalankan, maka seluruh mobil dijalan yang dilewati harus menepi dan memberikan jalan kepadanya. Hingga akhirnya dapat tiba dilokasi secepat mungkin, berharap korban masih sempat tertolong. Tapi apa proyeksi ambulance dijalan rel?




NR begitu lama untuk sampai dilokasi. Dan bahkan media massa elektronik seperti Metro TV, dan juga Anteve justru telah sibuk dalam pengambilan gambar yang kesekian kali!?! Penolong dari PT KA justru belum tampak. Hanya petugas sekitar Stasiun Gubug yang sibuk mengurusi korban meski masih dengan jiwa yang terguncang. Mungkin dapat dipertimbangkan lagi untuk dapat melengkapi dipo sarana dengan sebuah mobil pick up double cabin sebagai sarana dengan mobilitas tinggi untuk mencapai lokasi PLH lewat jalan raya, disamping juga NR. Sehingga pada saat terjadi PLH, manajemen tidak terlalu malu karena telah dengan cepat mengirim tim penolong ke lokasi. Selain itu juga perlu untuk melengkapi dipo sarana dengan alat perekam seperti kamera dan atau video kamera yang dapat merekam bukti-bukti yang ada sebelum hilang atau berubah. Hingga evaluasi dapat dilakukan dengan data yang akurat dan valid.
Pada pagi hari tanggal 15 April 2006 itu, proses evakuasi yang melibatkan Crane Gottwald dari Dipo Lok Cirebon, dan Crane Kirow dari Dipo Lok Solo lebih banyak difokuskan pada korban manusia; luka maupun meninggal. Pada material PLH dilakukan pemisahan kereta-kereta yang masih berdiri direl. Material PLH tersebut ditarik keemplasemen Stasiun Gubug, untuk kemudian ditarik ke Stasiun Semarang Tawang. Sehingga yang tersisa dilokasi tinggallah material PLH yang berada diluar jalan rel; anjlog, terguling, dan sebagainya. Material yang tersisa tersebut adalah pada rangkaian Kertajaya: 1 (satu) kereta, 1 (satu) lok CC 201 135, dan pada rangkaian Sembrani: 5 (lima) kereta, 1 (satu) lok CC 203 39. Adapun material PLH secara sederhana dibagi menjadi 9 (sembilan) material PLH; yaitu 6 (enam) kereta, 2 (dua) lok, dan 1 (satu) bogie lok CC 201 135 yang meluncur “sendiri” jauh ke timur sejauh kurang lebih 70 meter. Sebenarnya 1 (satu) bogie CC 201 135 juga terlepas, hanya saja jatuhnya masih didekat loknya. Sampai dengan pengangkatan 6 (enam) material PLH semua nampak lancar, dan bahkan material No.7 dan No.8 (tampak digambar) pun dilakukan masih dengan sedikit kendala. Namun sampai pada evakuasi material No.9 (lok CC 203 39) kendala itu muncul. Lok CC 203 39 yang menarik KA Sembrani tersebut menghujam ketanah bekas sawah sebelah selatan jalan rel, dengan jarak kurang lebih 20 meter dari rel. Berat material yang kurang lebih 84 Ton tersebut menjadi satu kendala selain juga karena ujung depannya yang menghujam dan tertancap ketanah kurang lebih 30 sentimeter. Sehingga pada jangkauan tersebut Crane Gottwald maupun Kirow tidak mampu untuk mengangkatnya. Sedangkan untuk menariknya akan sangat membutuhkan banyak energi dikarenakan posisi material No.9 yang tertancap itu. Dan proses yang terakhir ini begitu banyak menyita waktu (kurang lebih 3 (tiga) hari). Belum lagi dikarenakan proses menunggu KA yang lewat di Perka. Sampai pada hari ke-3 proses evakuasi material No.9 belum juga tuntas. Akhirnya diputuskan suatu strategi dari banyak metode yang diusulkan, yaitu Metode Angkat-Tarik-Luncur. Crane mengangkat, Hand Tracker menarik, dan meluncur direl diatas karung sirtu. Metode Angkat-Tarik-Luncur adalah metode yang dihasilkan dari rembukan seluruh komponen tim pendukung evakuasi PLH di Gubug, sehingga pelaksanaannya mendapat dukungan dari seluruh komponen yang ada.
Namun ada satu usulan yang sebenarnya jika dilakukan maka secara relatif akan membutuhkan waktu yang lebih sedikit. Yaitu Metode Guling. Pada gambar dapat dilihat gaya-gaya yang bekerja pada material No.9 saat dilakukan evakuasi dengan menggunakan metode Angkat-Tarik-Luncur, maka gaya FT akan sangat besar, mengingat ujung depan material No.9 tertancap ketanah sedalam ± 30 sentimeter, sehingga gaya reaksi RX akan melawan gaya FT. Ini menjadi lebih berat lagi ketika material tersebut ditarik sehingga menyebabkan material tersebut semakin tertancap ketanah.Metode Guling pada prinsipnya adalah meminimalkan gaya, usaha, tenaga, dan yang pasti adalah waktu, yang diperlukan untuk mengevakuasi material PLH, dengan pertimbangan: 1. Lokasi; kiri-kanan rel adalah sawah dan bekas sawah, 2. Kemampuan Crane; jangkauan lengan crane dan kapasitas angkat, 3. Berat material; kurang lebih 84 Ton, dan4. Waktu evakuasi yang diselingi oleh KA yang lewat dilokasi dalam Perka.Dari analisa sederhana dimuka, maka dapat disimpulkan bahwa Metode Guling adalah salah satu metode yang sebenarnya dapat digunakan dalam proses evakuasi material No.9; lok CC 203 39; dalam PLH Gubug yang melibatkan KA Ekonomi 150 Kertajaya, dan KA Eksekutif 40 Sembrani pada 15 April 2006. Adapun metode lain yang dapat digunakan tentu masih banyak lagi. Tapi dengan pertimbangan-pertimbangan seperti tersebut diatas tadi, maka setiap penanganan PLH mempunyai tingkat kesukaran yang kondisional (sangat tergantung kondisi). Sehingga pemilihan metode dalam diskusi sebelum pelaksanaan evakuasi adalah salah satu standard operational procedure (SOP) yang harus dilakukan. Sehingga target dan atau kondisi yang diinginkan dapat tercapai dengan sistematis. Meski demikian, maka ini tidak berarti Metode Guling lebih baik daripada Metode Angkat-Tarik-Luncur yang telah dilakukan oleh seluruh pendukung evakuasi material PLH Gubug, akan tetapi metode ini dapat dipertimbangkan untuk dapat digunakan dalam evakuasi material PLH pada waktu yang akan datang.
Sekali lagi ini hanya sebuah catatan yang tersisa selama kurang lebih 5 (lima) hari penanganan evakuasi material PLH Gubug. Dan tidak sekali-kali menganggap yang telah dilakukan pada saat itu adalah tidak berhasil, tidak tepat, ataupun salah. Sebab ini hanyalah sumbangan pemikiran dengan analisa yang kami lakukan. Adapun PLH semoga tidak lagi terjadi dimanapun diseluruh republik ini. Amin.(Buku: REFORMASI SARANA: SEGERA! priyo, 2006)

Posisi KA 40 Sembrani (Putih) dan KA 150 Kertajaya (Hitam) di Gubug.




Material anjlog/terguling yang dievakuasi.



Proses evakuasi CC 203 39 : Tarik Luncur

Evakuasi CC 203 39 : Metode guling